RSS

PT Pelindo Butuh Konsesi

21 Jun

PT Pelindo Butuh Konsesi

| Rabu, 20 Juni 2012 | 02:40 WIB

Jakarta, Kompas- Operator pelabuhan PT Pelabuhan Indonesia II membutuhkan dokumen konsesi pada proyek Terminal Kalibaru di Pelabuhan Tanjung Priok, Jakarta. Konsesi dibutuhkan untuk menjamin kelangsungan proyek. Selain itu, konsesi juga diperlukan untuk pembiayaan.

”Kami butuh dokumen konsesi dari pemerintah, yang terdiri dari waktu konsesi dan juga biaya konsesi (fee). Ini penting bagi percepatan investasi Pelindo di Kalibaru,” ujar Direktur Operasi PT Pelabuhan Indonesia II (Pelindo II) Dana Amin, di Jakarta, Selasa (19/6).

Bahkan, kata Dana, Pelindo II telah mengusulkan Pelabuhan Cilamaya dibangun 15 tahun sejak pengoperasian Tahap I Kalibaru pada tahun 2014.

Kembali ke soal konsesi, Dana memastikan, permohonan konsesi sudah diajukan Pelindo II. ”Dari sisi Pelindo II, kami selalu bekerja cepat. Bahkan, apa pun dikerjakan untuk mempercepat realisasi Kalibaru,” ujar dia.

Meski demikian, pengamat maritim Saut Gurning dari Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS) meragukan kemampuan Kementerian Perhubungan untuk menghitung jangka waktu konsesi. ”Ini proyek berkapitalisasi besar. Nilainya puluhan triliun rupiah, apakah regulator punya pengalaman?” ujar dia.

Harun al-Rasyid Lubis dari Transportation Research Group Institut Teknologi Bandung (ITB) menambahkan, memang sulit menghitung konsesi. ”Kalau proyek ini ditender jelas mudah, yang mengajukan konsesi terpendek, ya, menang,” ujar dia.

”Tapi di proyek penunjukan harus pula paling menguntungkan bagi rakyat. Jadi harus dihitung cermat. Bagaimanapun juga, Kementerian Perhubungan harus punya hitungan sendiri. Secara psikologis, infrastruktur tetap tugas pemerintah. Bila diserahkan kepada keinginan swasta, tak perlu regulator,” kata Harun.

Proyeksi 6,7 juta TEUs

Dihubungi terpisah, Wakil Ketua Komisi V DPR Nusyirwan Soejono mendorong regulator dan operator untuk menjalankan fungsi dalam pembangunan Kalibaru. ”Setiap pihak harus serius menjalankan perannya. Kalibaru ini jelas-jelas sangat diperlukan,” ujar dia.

”Mampu atau tidak mampu, regulator harus menjalankan perannya,” ujar Nusyirwan, politisi dari PDI-Perjuangan. Ia mengingatkan betapa pertumbuhan perekonomian Indonesia tergantung dari pembangunan infrastruktur pelabuhan.

Nusyirwan juga mengingatkan, regulator dan operator harus fokus di Kalibaru. ”Jangan dulu berbicara proyek lain. Nanti seperti Pelabuhan Bojanegara di Cilegon, Banten, sudah diwacanakan, menghabiskan ratusan miliar (rupiah), tapi terbengkalai,” kata dia.

Laju pertumbuhan peti kemas di Pelabuhan Tanjung Priok memang luar biasa. Prediksi awalnya, volume peti kemas di Tanjung Priok mencapai 6,1 juta peti kemas ukuran 20 kaki (twenty foot equivalent units/TEUs).

”Namun, kami prediksi menembus 6,7 juta TEUs pada akhir tahun 2012,” kata Cipto Pramono, Direktur Personalia dan Umum Pelindo II, yang juga Manajer Umum Pelabuhan Tanjung Priok. Padahal, kapasitas terpasang Tanjung Priok sekitar 6,2 juta TEUs per tahun.

Izin Kalibaru

Izin pembangunan Terminal Kalibaru, kata Dana, juga belum tegas diterbitkan bagi Pelindo II. Yang ada hanya Surat Keputusan Direktur Jenderal Perhubungan Laut Nomor BX-326/ PP.008 tentang Pemberian Izin Pengembangan Terminal Peti Kemas Kalibaru ”justru” kepada Otoritas Pelabuhan Tanjung Priok.

Pada poin pertama, baru dituliskan izin ke Otoritas Pelabuhan Tanjung Priok untuk mengembangkan Tanjung Priok bekerja sama dengan Pelindo II.

Pelindo II diperkenankan membangun Terminal Kalibaru tahap IA seluas 36 hektar dengan konstruksi deck on pile (dengan tiang pancang). Tahap IB seluas 180 hektar dengan konstruksi reklamasi. Kemudian, areal untuk penimbunan material urukan seluas 56 hektar.

”Pelindo II membangun secepat mungkin untuk mengejar pertumbuhan. Biaya pembangunan Kalibaru tahap IA mungkin lebih mahal dari IB karena konstruksi deck on pile, dengan pelat beton dan tiang pancang sehingga lebih cepat dibangun,” kata Arif Suhartono, Direktur Operasi PT Multi Terminal Indonesia.

Sementara itu, Dana Amin menyarankan supaya Pelindo II boleh membuang tanah urukan hasil pengerukan alur dan kolam di sisi barat Terminal IB.

Menurut Dana Amin, dengan membuang tanah urukan di sisi barat Terminal IB, didapat keuntungan berganda. ”Pertama, Pelindo menghemat Rp 250 miliar. Kedua, didapat lahan baru 190 hektar. Ketiga, mungkin tidak diperlukan pembangunan breakwater (pemecah gelombang) baru,” ujarnya. (RYO)

 

Sumber : http://bisniskeuangan.kompas.com/read/2012/06/20/02401288/PT.Pelindo.Butuh.Konsesi

 
Tinggalkan komentar

Ditulis oleh pada Juni 21, 2012 in Headline Media

 

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: